5 Bahaya Aborsi untuk Kesehatan

5 Bahaya Aborsi untuk Kesehatan
Aborsi Bisa Membahayakan Bagi Kesehatan Ibu/Pexels
  • Aborsi merupakan tindakan menggugurkan kehamilan. Biasanya terjadi karena sejumlah faktor, salah satunya alasan kesehatan
  • Namun, aborsi bisa mendatangkan bahaya bagi fisik maupun psikis sang Ibu.

noDokter – Tindakan aborsi memang sudah tak asing lagi di telinga. Banyak kasus kehamilan yang tak diinginkan (KTD) berakhir dengan tindakan ini. 

Menurut data terbaru dari Lancett Global Health, ada sekitar 121 Juta KTD di dunia dalam rentang waktu 2015-1019. Sebanyak 68% dari jumlah tersebut berakhir dengan aborsi. Ini berarti ada sekitar 73 Juta kasus aborsi yang terjadi dalam kurun waktu penelitian tersebut. 

Tindakan aborsi memang tidak sepenuhnya ilegal, banyak juga yang bisa dilakukan oleh dokter medis dengan legal. Namun, ada sejumlah bahaya aborsi yang harus Anda tahu sebelum memutuskan untuk melakukannya.

Pengertian Aborsi

Aborsi adalah tindakan mengakhiri kehamilan. Secara medis, aborsi dapat dilakukan secara legal oleh dokter. 

Ada beberapa kondisi yang memungkinkan seseorang melakukan tindakan aborsi. Seperti masalah kesehatan ibu maupun calon bayi, kondisi bayi yang tak berkembang, hingga korban pemerkosaan.

Biasanya, tindakan menggugurkan kehamilan ini dilakukan sebelum janin berusia 24 minggu. Tindakan ini bisa berupa pemberian obat-obatan penggugur kandungan ataupun operasi.

Bahaya Melakukan Aborsi

Ada sejumlah bahaya mengintai dengan melakukan aborsi. Berikut beberapa daftarnya.

1. Pendarahan

Salah satu risiko yang terjadi hampir pada setiap tindakan aborsi adalah pendarahan hebat di vagina. Pendarahan ini akan lebih besar risikonya ketika pengguguran dilakukan saat usia kandungan sudah mencapai 20 minggu. 

Dalam kondisi tertentu, seseorang yang mengalami pendarahan akibat aborsi, kemungkinan bisa mengalami gejala tak sadarkan diri. Tindakan yang bisa Anda lakukan adalah pemberian transfusi darah supaya asupan darah kembali normal.

Pendarahan juga bisa terjadi ketika ari-ari atau jaringan bayi tertinggal di rahim. Itu sebabnya sangat penting untuk melakukan tindakan ini bersama dokter legal.

2. Infeksi

Bahaya aborsi selanjutnya adalah infeksi di area vagina dan saluran kemih. Obat-obatan serta tindakan operasi yang dokter lakukan sangat memungkinkan masuknya bakteri ataupun organisme lainnya yang dapat menyebabkan infeksi.

Infeksi bisa berupa keputihan, tumbuhnya jamur di area vagina hingga saluran kemih tersumbat. Pada kasus tertentu, infeksi juga bisa menyebabkan sepsis atau komplikasi yang berdampak pada turunnya tekanan darah secara drastis.

3. Kerusakan Rahim dan Vagina

Bila tidak melibatkan dokter legal, aborsi bisa sangat membahayakan bagi rahim dan vagina. Tindakan pengguguran ini bisa merobek selaput di vagina dan rahim yang tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan.

Dengan tindakan ini, kemungkinan terdapatnya luka berat atau lubang di leher rahim dan vagina sangatlah besar.

4. Siklus Haid Tak Teratur

Bagi wanita yang melkukan tindakan aborsi, kemungkinan untuk kembali haid bisa terjadi hingga 4 atau 6 minggu. Maka, siklus menstrusasi akan berubah drastis. 

Siklus haid ini juga berpengaruh pada masa subur dan pembuahan. Maka, sangat penting untuk mencatat segala yang berhubungan dengan siklus tersebut.

Jikapun setelah melakukan aborsi, Anda berniat untuk hamil kembali, baiknya konsultasikan pada dokter kandungan. Hal ini untuk mencegah adanya infeksi rahim yang malah akan membahayakan kesehatan Anda maupun calon janin kelak.

5. Kondisi Psikis Terancam

Aborsi Bisa Menyebabkan Depresi/Unsplash

Tak hanya berdampak pada fisik, bahaya aborsi juga sangat berpengaruh pada kondisi psikologis. Perasaan cemas, merasa bersalah, malu biasanya akan menyelimuti wanita setelah tindakan aborsi. 

Tidak sedikit juga mereka yang akan merasa sangat depresi pasca-aborsi. Untuk itu, sangat perlu untuk terus mengkonsultasikan kondisi kesehatan fisik dan mental setelah tindakan pengguguran. 

***

Sumber: The Lancett Global Health, Kompas, WHO

Bagikan!

Tinggalkan Balasan