4 Mitos Kesehatan Otak yang Harus Kamu tahu

4 Mitos Kesehatan Otak yang Harus Kamu tahu
Ilustrasi/Vectorstock
  • Banyak orang yang masih terkebak mempercayai mitos kesehatan otak, sehingga tak tahu cara yang tepat untuk meningkatkan kinerjanya.
  • Sifat pelupa bisa Anda ubah dengan banyak latihan teka-teki silang ataupun belajar bahasa baru.

noDokter – Jika Anda masih berpikir bahwa sifat pelupa adalah kodrat yang sulit diubah, itu artinya Anda masih terjebak dalam mitos kesehatan otak. Ya, kita bisa mengubah sifat pelupa dengan banyak beraktivitas fisik. 

Sayangnya, masih banyak orang yang percaya mitos-mitos tersebut, sehingga tak berusaha untuk memelihara kesehatan otak dengan benar. 

Kali ini, kita akan membahas 5 mitos kesehatan otak yang paling populer di masyarakat. Berikut daftarnya. 

Baca Juga: Makanan Otak yang Membantu Anda Berkonsentrasi

1. Pelupa bukan takdir, bisa disembuhkan

Mitos ini menjadi salah satu yang paling populer, padahal jika Anda pelupa, Anda bisa latihan untuk mempertajam ingatan. Teka-teki silang misalnya bisa menjadi salah satu cara klasik untuk mengaktifkan sel-sel otak, menurut Gary Small, M.D., kepala dokter kesehatan perilaku di Hackensack Meridian Health. 

Lebih baik lagi jika Anda mencoba hobi baru yang sedikit menantang (misalnya, belajar bahasa baru). Sebuah penelitian terhadap lanjut usia menemukan bahwa hobi ini bisa sangat meningkatkan memori episodik.

Aktivitas fisik juga membantu, olahraga aerobik khususnya bisa meningkatkan memori dan aliran darah ke otak. Sebuah studi di Journal of Alzheimer’s Disease menemukan peningkatan 47% memori pada orang yang melakukan latihan aerobik selama setahun.

2. Ginko Biloba Bisa Tingkatkan Kesehatan Otak

Pola makan sehat, termasuk sering makan ikan, akan membantu Anda terhindar dari Alzheimer.

Banyak sekali produk yang mengklaim memiliki kandungan ginko biloba dengan khasiat baik untuk otak. Sayangnya, ini belum teruji oleh banyak penelitian. 

Hal yang sama berlaku untuk vitamin E, meskipun beberapa penelitian menunjukkan bahwa vitamin E dapat memperlambat penurunan fungsional pada orang yang sudah memiliki penyakit Alzheimer

Nutrisi memang banyak berperan dalam kesehatan otak, tetapi lebih baik fokus pada makanan utuh yang sehat daripada suplemen yang berlebihan.

Contoh makanan yang bisa meningkatkan kesehatan otak adalah ikan. Sebuah penelitian terhadap orang yang lebih tua dari 65 tahun menunjukkan bahwa mereka yang makan ikan memiliki volumei hippocampus (bagian otak yang penting untuk memori) yang lebih besar. 

Penelitian lain menunjukkan bahwa buah beri dapat membantu memperlambat penurunan kognitif. Hal ini mungkin karena tingkat antioksidan dan flavonoid anti-inflamasinya yang tinggi.

Baca Juga: Mythbuster: Obat Kuat Viagra Bisa Bantu Cegah Alzheimer?

3. Kita hanya butuh waktu 4 jam tidur supaya otak makin cemerlang

Yang satu ini juga menjadi mitos yang populer setelah mendengar cerita para orang ternama yang menggaungkan hanya tidur sebentar setiap malamnya. Sekali lagi, ini tak benar. 

Faktanya, walaupun mungkin Anda merasa baik-baik saja, tapi otak Anda sebenarnya tidak. 

Hampir semua orang dewasa membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam. 

Itu karena ketika Anda tidur, Anda tidak hanya beristirahat. Otak Anda sibuk membentuk ingatan baru dan mengkonsolidasikan ingatan lama. Jika Anda mendapatkan istirahat malam yang baik, Anda akan mengingat lebih baik apa yang terjadi sehari sebelumnya, yang sangat penting untuk belajar.

Tidur juga menjadi saatnya untuk membersihkan penumpukan protein beracun yang menumpuk di siang hari. Satu studi menemukan bahwa ruang antara sel-sel otak menjadi lebih besar saat tidur, membiarkan otak membuang produk limbah dengan lebih mudah. 

4. Demensia adalah penyakit yang tak bisa dihindari

Penuaan adalah faktor risiko terbesar untuk demensia, tetapi penuaan saja tidak menyebabkannya. Menurut laporan dari Lancet Commission (2020), 40% kasus demensia sebenarnya disebabkan oleh gaya hidup tak benar, seperti hipertensi, konsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas fisik.

Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah “cadangan kognitif”, yaitu kemampuan otak Anda untuk beradaptasi dengan tantangan sesuai dengan usia. Hal ini dapat menjelaskan mengapa orang dengan pendidikan lebih cenderung tidak mengalami demensia.

Demensia juga bukan penyakit genetik. Memang, studi menunjukan bahwa jika Anda memiliki keluarga dengan penyakit ini, Anda berpeluang memilikinya 15-23%. Tapi, alasannya bukan karena genetik, tapi lebih kepada keluarga biasanya punya gaya hidup yang sama.

Ini artinya, Anda masih sangat berpeluang untuk terhindar dari demensia, dengan mengubah pola hidup dari sejak muda.

[*]

Sumber: US National Library of Medicine, Journal of Alzheimer’s Disease, Lancet Comission, Prevention

Bagikan!

Tinggalkan Balasan