11 Mitos dan Fakta Seputar Vitamin D

11 Mitos dan Fakta Seputar Vitamin D
Ilustrasi/Freepik
  • NIH merekomendasikan bahwa orang dewasa berusia 19 hingga 70 tahun mengonsumsi 15 mcg (600 IU).
  • Ketika sinar ultraviolet B matahari mengenai Anda, akan mengubah bahan kimia di kulit menjadi vitamin D3.

noDokter – Vitamin D adalah nutrisi ajaib. Menurut National Institutes of Health (NIH), di antara fungsi vitamin D adalah memperkuat tulang, menyerap kalsium, dan memperkuat kekebalan. Namun masih banyak mitos dan fakta seputar vitamin D ini di masyarakat.

“Ada harapan bahwa vitamin D adalah obat ajaib. Jika kita meminumnya dalam dosis besar, akan menyelesaikan semua masalah,” kata Anne McTiernan, MD, PhD. Ia adalah seorang profesor epidemiologi di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle. Juga penulis Starved: A Nutrition Doctor’s Journey From Empty to Full.

Itu, tentu saja, tidak benar. Tidak ada vitamin atau suplemen yang bisa menyembuhkan semuanya, para ahli kesehatan setuju. Apa saja mitos yang beredar dari vitamin D ini?

1. Mitos: Semakin Banyak Vitamin D Semakin Baik

Terlalu banyak hal yang baik bisa menjadi hal yang buruk, dan begitu juga dengan vitamin D. “Meskipun jarang terjadi terlalu banyak vitamin D, bukan berarti itu tidak bisa terjadi. Situasi ini – keracunan vitamin D – memiliki konsekuensi kesehatan yang serius,” kata Amy Kimberlain, RDD. Ia adalah juru bicara Academy of Nutrition and Ahli diet dan spesialis perawatan dan pendidikan diabetes bersertifikat (CDCES) di Miami.

NIH merekomendasikan bahwa orang dewasa berusia 19 hingga 70 tahun mengonsumsi 15 mcg (600 IU/International Unit). Sedangkan orang dewasa berusia 71 tahun ke atas mengonsumsi 20 mcg (atau 800 IU). Batas harian maksimumnya adalah 4.000 IU untuk orang berusia 9 tahun ke atas, kata Kimberlain.

Tetapi Harvard Health Publishing mencatat bahwa semakin banyak orang yang mengonsumsi lebih dari rekomendasi dokter. Hati-hati gejala keracunan vitamin D bisa mengancam. Gejalanya mungkin termasuk mual, muntah, sering buang air kecil, lemah, nyeri tulang, dan sakit ginjal, menurut Mayo Clinic.

2. Fakta: Berjemur Membantu Tubuh Menghasilkan Vitamin D

Banyak orang menyebut vitamin D sebagai “vitamin sinar matahari” karena suatu alasan. Ketika sinar ultraviolet B matahari mengenai Anda, akan mengubah bahan kimia di kulit menjadi vitamin D3, menurut Harvard Health Publishing.

Para ahli menyarankan sekitar 5 hingga 30 menit paparan sinar matahari setiap hari. Terutama antara pukul 10 pagi dan 4 sore, atau setidaknya dua kali seminggu, pada lengan, wajah, kaki, dan tangan. Tentunya tanpa tabir surya sehingga bisa menghasilkan jumlah vitamin D yang cukup.

Tetapi hindari terlalu banyak paparan sinar matahari, yang meningkatkan peluang Anda terkena kanker kulit dan kerutan. Caranya dengan memakai tabir surya setidaknya SPF 15 bersama dengan pakaian pelindung, catat NIH.

3. Mitos: Vitamin D Cukup Melalui Makanan Saja

Menambah vitamin D hanya melalui makanan bukanlah hal yang mustahil, tetapi memang sedikit rumit. Sumber makanan vitamin D termasuk ikan, seperti 3 ons salmon, atau secangkir jamur putih yang terpapar sinar UV, menurut NIH. Makanan vitamin D yang paling umum di Amerika Serikat adalah telur, keju cheddar, susu dan sereal, serta jamur portobello.

Makanan ini hanya mengandung sebagian kecil dari nilai harian (DV) untuk vitamin D. Misalnya, satu telur besar menawarkan 1,1 mcg (44 IU), dan sereal yang diperkaya vitamin D menawarkan 2 mcg (80 IU). Ini menyediakan masing-masing 6 persen dan 10 persen dari DV. Hal ini membuat makanan ini hanya sumber vitamin kecil.

Jadi sebaiknya Anda tidak makan makanan vitamin D saja. “Mengisi dengan makanan yang mengandung vitamin D akan memberikan sedikit vitamin D. Namun, mendapatkan sebagian vitamin D melalui sinar matahari dan mengonsumsi suplemen dapat membantu Anda mencapai tingkat yang cukup,” kata Kimberlain.

4. Fakta: Memiliki Vitamin D Rendah Terkait Bad Mood

Menurut sebuah penelitian menggunakan sel otak tikus yang terbit pada Juli 2018 di Gens and Nutrition, vitamin D tampaknya berperan dalam produksi serotonin. Serotonin adalah hormon yang membantu mengatur suasana hati dan tidur menurut Universitas Stanford. Ada korelasi antara kadar vitamin D yang rendah dan gangguan mood.

Banyak penyebab depresi, tetapi Klinik Cleveland mencatat bahwa depresi dan kelelahan mungkin merupakan tanda Anda memiliki kadar vitamin D rendah. Sehingga mendapatkan vitamin D dalam kisaran normal dapat membantu. “Sinar matahari meningkatkan vitamin D dan suasana hati. Jadi kita tidak akan tahu apakah itu benar-benar vitamin D yang meningkatkan suasana hati atau berasal dari sinar matahari,” kata McTiernan.

5. Mitos: Suplemen Vitamin D Sebabkan Berat Badan Turun

Tidak ada bukti ilmiah bahwa mengonsumsi suplemen vitamin D akan membantu memangkas lingkar pinggang Anda. Demikian kata Michael Holick, MD, PhD, seorang ahli endokrinologi dan Direktur Kesehatan Tulang, Klinik Perawatan di Pusat Medis Universitas Boston.

Para peneliti setuju masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan bahwa mengonsumsi vitamin D dapat membantu Anda menurunkan berat badan. Hal ini karena masih belum jelas apakah status vitamin D yang rendah merupakan konsekuensi dari obesitas. Namun, memiliki vitamin D yang cukup dapat membantu orang menjalani kehidupan yang lebih sehat. Sehingga pada gilirannya dapat membantu seseorang menurunkan berat badan.

6. Fakta: Membantu Mendukung Sistem Kekebalan Tubuh

Untuk menjaga sistem kekebalan Anda berfungsi dengan baik, Anda harus memastikan mendapatkan cukup vitamin D. Menurut Harvard TH Chan School of Public Health, vitamin D dapat mengurangi respons inflamasi berbahaya dari sel darah putih tertentu. Juga meningkatkan produksi protein pelawan mikroba sel kekebalan. Orang dewasa yang memiliki kadar vitamin D rendah lebih mungkin mengalami pilek, batuk, atau infeksi saluran pernapasan atas.

“Uji coba klinis telah menemukan bahwa suplementasi vitamin D dapat mengurangi jumlah penyakit yang berkembang pada anak-anak,” kata McTiernan. Hal ini mengacu pada penelitian sebelumnya tentang influenza.

Karena potensi manfaat bagi sistem kekebalan tubuh, beberapa orang menganggap vitamin D dapat berfungsi sebagai alat atau terapi pencegahan Covid-19. Padahal, masih terlalu dini untuk mengatakannya. Studi yang terbit pada Oktober 2020 di Journal of Clinical Endocrinology & Metabolisme, menemukan lebih dari 80% penderita Covid-19 di sebuah rumah sakit di Spanyol mengalami kekurangan vitamin D.

Studi lain, yang juga terbit pada September 2020 di PLoS One yang menganalisis 235 orang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Para peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan status vitamin D berpotensi mengurangi keparahan gejala dan kematian yang terkait dengan Covid-19.

7. Mitos: Setiap Orang Harus Menguji Kadar Vitamin D

Untuk menjaga kesehatan yang baik, penting untuk memiliki kadar vitamin D dalam kisaran yang memadai. Menurut NIH, orang dewasa membutuhkan antara 20 dan 30 nanogram per mililiter (ng/mL) vitamin D dalam darah mereka. “Pengujian menjadi lebih umum, tetapi tidak perlu pemeriksaan secara luas,” kata Holick.

Menurut MedlinePlus, dokter dapat memesan tes darah vitamin D jika Anda memiliki gejala vitamin D rendah. Gejala itu dapat mencakup kelemahan tulang, kelembutan tulang, dan patah tulang. Ada beberapa faktor risiko lain yang mungkin memberi sinyal kepada dokter Anda bahwa Anda memerlukan tes vitamin D. Seperti obesitas, operasi bypass lambung sebelumnya, usia yang lebih tua, kulit gelap, dan kurangnya sinar matahari di hari Anda.

8. Fakta: Vitamin D Meningkatkan Kadar Gula Darah

Jika Anda mencoba untuk mencegah atau mengelola diabetes tipe 2, mungkin sudah saatnya untuk bertanya kepada dokter tentang kadar vitamin D Anda. “Kami pikir vitamin D membantu resistensi insulin,” kata Holick.

Satu literatur September 2019 di jurnal Current Diabetes Reports menunjukkan kadar vitamin D rendah dalam darah berkorelasi dengan resistensi insulin. Pada saat yang sama, penulis penelitian menyimpulkan bahwa peran vitamin D untuk mencegah dan mengobati diabetes masih harus dilihat.

Studi lain pada September 2019, di European Journal of Endocrinology, menemukan suplementasi vitamin D selama enam bulan meningkatkan sensitivitas insulin. Terutama pada orang yang berisiko terkena diabetes tipe 2 serta orang yang baru saja didiagnosis. Para peneliti bahkan menyarankan bahwa suplementasi dengan vitamin D dapat membantu menunda perkembangan diabetes tipe 2 atau memperlambat perkembangan penyakit.

9. Fakta: Vitamin D Terkait Risiko Lebih Rendah Kanker Tertentu

“Individu dengan kadar vitamin D yang sangat rendah berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara, usus besar, ginjal, paru-paru, dan pankreas.” Demikian Carol Fabian, MD, seorang ahli onkologi di University of Kansas Cancer Medical Center di Kansas City. Klinik Cleveland juga mencatat bahwa vitamin D dapat membantu menurunkan risiko kanker prostat.

“Kebanyakan orang yang mengalami obesitas tidak banyak berolahraga. Obesitas serta gaya hidup yang kurang gerak juga merupakan faktor risiko kanker payudara, usus besar, ginjal, paru-paru, dan pankreas,” kata Fabian. Sementara kekurangan vitamin D mungkin tidak secara langsung meningkatkan risiko kanker, hubungan antara keduanya ada dalam beberapa kasus.

10. Mitos: Semua Wanita Dewasa Butuh Jumlah Vitamin D yang Sama

American College of Obstetricians and Gynecologists mencatat kekurangan vitamin D yang parah pada ibu selama kehamilan berdampak pada bayinya. Terutama terkait rakhitis dan patah tulang, meskipun ini jarang terjadi. Organisasi tersebut menyatakan bahwa sebagian besar ahli setuju 1.000 hingga 2.000 IU per hari vitamin D aman untuk wanita hamil.

Ada bukti lain juga, bahwa vitamin D penting untuk kesehatan ibu dan bayi. Sebuah tinjauan yang diterbitkan pada Juni 2020 di Clinical Nutrition menemukan bahwa suplementasi vitamin D mungkin berguna dalam mencegah preeklamsia.

11. Fakta: Usia Mempengaruhi Kemampuan Kulit Membuat Vitamin D

Wanita yang lebih tua (juga pria) kemungkinan akan membutuhkan lebih banyak vitamin D. Seperti disebutkan, jumlah yang disarankan, menurut NIH, adalah 800 IU per hari untuk pria dan wanita di atas 70 tahun.

Alasannya, menurut Johns Hopkins, orang yang lebih tua tidak menyerap vitamin D dengan baik. Juga menghasilkan lebih sedikit vitamin D daripada orang yang lebih muda. Sebuah penelitian yang terbit di Endocrinology and Metabolism Clinics of North America mencatat penuaan mengurangi produksi vitamin D di kulit. Selain itu, pengobatan lansia dengan 800 IU vitamin D per hari dapat mengurangi patah tulang. [*]

Sumber: Everydayhealth

Bagikan!

Tinggalkan Balasan